Makanan dan Suplemen untuk Anak Autis Menurut dr. Zaidul Akbar

Autism spectrum disorder (ASD) atau yang lebih sering disebut autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan seorang anak untuk berkomunikasi, berinteraksi, serta berperilaku. Bukan hanya autisme, ASD juga mencakup sindrom Asperger, sindrom Heller, dan gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS). 

Pengidap autisme khususnya pada anak-anak cenderung kesulitan untuk menuangkan pikiran dan mengekspresikan diri, baik dengan kata-kata, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan sentuhan. Mereka juga cenderung kesulitan untuk memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Mereka sangat sensitif sehingga lebih mudah terganggu, bahkan tersakiti oleh suara, sentuhan, bau, atau pemandangan yang tampak normal bagi orang lain.

Baca juga : Tentang Down Syndrome Menurut Dr. Med. dr. Calvin Tjong, SpOG

Penyebab

Sampai sekarang penyebab autisme masih belum diketahui. Namun, para ahli mengidentifikasi adanya beberapa faktor yang diduga bisa memicu seseorang mengalami gangguan ini, antara lain:

  1. Jenis kelamin. Anak laki-laki 4 kali lebih berisiko mengalami autisme dibanding anak perempuan.
  2. Faktor genetik.  Sekitar 2-18% orang tua dari anak penderita autisme, berisiko memiliki anak kedua dengan gangguan yang sama.
  3. Kelahiran prematur. Bayi yang lahir pada masa kehamilan 26 minggu atau kurang.
  4. Terlahir kembar. Pada kasus kembar tidak identik, terdapat 0-31% kemungkinan autisme pada salah satu anak memengaruhi kembarannya juga mengalami autisme. Pengaruh autisme makin besar pada anak yang terlahir kembar identik, yaitu sekitar 36-95%.
  5. Usia. Semakin tua usia saat memiliki anak, semakin tinggi risiko memiliki anak autis. Pada laki-laki, memiliki anak di usia 40an, risiko memiliki anak autis lebih tinggi 28%. Risiko meningkat menjadi 66% pada usia 50-an. Sedangkan pada wanita, melahirkan di atas usia 40an, meningkatkan risiko memiliki anak autis hingga 77% bila dibandingkan melahirkan di bawah usia 25 tahun.
  6. Pengaruh gangguan lainnya. Beberapa gangguan tersebut antara lain distrofi otot, fragile X syndrome, lumpuh otak atau cerebral palsy, neurofibromatosis, sindrom Down, dan sindrom Rett.
  7. Pajanan selama dalam kandungan. Konsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan (terutama obat epilepsi) dalam masa kehamilan, dapat meningkatkan risiko anak yang lahir menderita autisme.

Perlu diketahui, tidak ada keterkaitan antara pemberian vaksin (terutama vaksin MMR) dengan anak menjadi autis. Justru dengan pemberian vaksin, anak akan terhindar dari infeksi, seperti campak atau gondongan (mumps). Autisme juga terbukti tidak terkait dengan konsumsi makanan yang mengandung gluten, atau konsumsi susu dan produk turunannya.

Baca juga : Rumput Laut, Si Ratu Serat Berjuta Manfaat. Menurut Drs. Wanda S, Atmadja, MSc

Gejala

Gejala autisme digolongkan dalam dua kategori yaitu:

  • Kategori Pertama: Katergori ini merujuk pada penyandang autisme dengan gangguan dalam melakukan interaksi sosial dan berkomunikasi. Gejala ini dapat meliputi masalah kepekaan terhadap lingkungan sosial dan gangguan penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal.
  • Kategori Kedua: Penyandang austime dengan gangguan yang meliputi pola pikir, minat, dan perilaku berulang yang kaku. Contoh gerakan berulang, misalnya mengetuk-ngetuk atau meremas tangan, serta merasa kesal saat rutinitas tersebut terganggu.

Umumnya, penyandang autisme cenderung memiliki masalah dalam belajar dan kondisi kejiwaan lainnya, seperti gangguan hiperaktif atau disebut juga Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), gangguan kecemasan, dan depresi.

Pengobatan

Pengidap austisme tidak dapat disembuhkan. Oleh karena itu, orang tua harus mewaspadai gejalanya sedini mungkin. Meski demikian, ada banyak jenis penanganan yang bisa dilakukan untuk membantu penyandang autisme agar dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari dan mengembangkan potensi dalam diri mereka secara maksimal.

Tindakan penanganan yang dilakukan pada tiap pengidap bisa berbeda-beda. Namun, penanganan yang diberikan pada pengidap autisme umumny berupa terapi. Berikut beberapa pilihan metode terapi untuk pengidap autisme:

Terapi Perilaku dan Komunikasi

Terapi ini dilakukan dengan memberikan sejumlah pengajaran pada pengidap, termasuk kemampuan dasar sehari-hari, baik verbal maupun nonverbal.

Terapi Keluarga

Terapi ini ditujukan untuk orang tua dan keluarga pengidap autisme. Tujuannya adalah agar keluarga bisa belajar bagaimana cara berinteraksi dengan pengidap dan juga mengajarkan pengidap berbicara dan berperilaku normal.

Pemberian Obat-obatan

Pemberian obat-obatan tidak bisa menyembuhkan autisme, melainkan dapat mengendalikan gejalanya. Contohnya obat untuk mengatasi kejang, obat untuk mengatasi masalah perilaku, obat untuk mengatasi depresi, dan obat untuk mengatasi gangguan tidur.

Baca juga : Apa Saja Dampak Buruk Tidur Sore Menurut Donna Arand, Ph.D.

Makanan dan Suplemen Menurut dr. Zaidul Akbar

dr. Zaidul Akbar
Menurut dr. Zaidul Akbar dalam salah satu kajiannya, autisme memiliki hubungan dengan logam berat atau toksin dan untuk hal ini perlu bagi kita untuk mengangkat logam berat atau toksin tersebut dalam tubuh penderita autis dengan cara mengonsumsi beberapa minuman dan makanan sebagai berikut :

Yang Perlu Dikonsumsi

  • Air kelapa;
  • Spirulina/Ganggang Laut;
  • Makanan atau minuman dari bahan daun kelor;
  • Makanan yang mengandung serat tinggi seperti kolang kaling;
  • Rimpang POS (Power of Six) yaitu : Jahe, Serai, Kunyit, Temulawak, Kencur, Kayumanis.

Pola Makan untuk Anak Autis

  • Mengonsumsi makanan yang tinggi rempah, salah satunya adalah kunyit. Karena kunyit memiliki kemampuan memperbaiki sel-sel otak;
  • Mengonsumsi bawang-bawangan, hal ini sangat baik untuk mengikat logam berat/toksin/racun dalam tubuh;
  • Mengonsumsi infused water rimpang-rimpangan (jahe/kunyit/sereh/dll..).

Berikut videonya :

Semoga bermanfaat



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Makanan dan Suplemen untuk Anak Autis Menurut dr. Zaidul Akbar"

Post a Comment