Hubungan Tetap Harmonis Walau Berdua Sibuk Bekerja. Menurut Dian Suryaningrum, S.Psi, M.Psi, Psi

Bagi pasangan suami istri yang keduanya bekerja, tentunya akan mempunyai lebih sedikit waktu untuk dihabiskan bersama pasangannya. Lalu bagaimana cara pasangan tetap harmonis walau sibuk bekerja?

Menurut Dian Suryaningrum, S.Psi, M.Psi, Psi, setiap pasangan suami istri memiliki kewajiban utuk selalu menjaga hubungan mereka agar tetap harmonis. Hal tersebut berlaku baik bagi pasangan yang keduanya bekerja maupun tidak. Pasangan yang sudah memiliki anak ataupun belum dan sebagainya, karena esensi dari 'Menikah' dan 'membina keluarga' tidak lain adalah bagaimana mengusahakan supaya keluarga yang dibina tersebut bisa berlangsung awet dan langgeng.

Lebih lanjut Ibu Dian mengatakan, hakekatnya seorang manusia (pria atau wanita) adalah pribadi yang memiliki minat, kebutuhan, aspirasi, pemikiran, emosi, kebiasaan, sifat yang membentuk kepribadiannya masing-masing dan ingin diaktualisasikan untuk mempertahankan eksistensi mereka sebagai individu. 

Hal ini yang pertama kali harus disadari dan diketahui  oleh masing-masing pihak. Setelah itu masing-masing pihak harus dapat mengkomunikasikan kebutuhan minat dan aspirasi tersebut pada pasangannya. Mengapa demikian? Karena inilah yang disebut dengan proses adaptasi. Beberapa pasangan, ada yang sama-sama memiliki aspirasi untuk bekerja, ada pula yang tidak. Jenis pekerjaan yang dipilih pun dapat beraneka ragam. Mulai dari kerja kantoran, wiraswasta, pekerjaan domestik, paruh waktu, dan sebagainya. 

Tugas dari setiap pasangan adalah saling mendiskusikan harapan masing-masing sebagai seorang pribadi dan juga harapan terhadap pasangan masing-masing. Seorang istri harus belajar memahami apa kebutuhan, minat dan aspirasi suaminya, serta harapan suami suami terhadap dirinya. Demikian pula suami harus belajar memahami apa kebutuhan, minat dan aspirasi istrinya, serta harapan istri terhadap dirinya. Tentu saja proses ini tidak dapat berlangsung dengan cepat. Penyesuaian antara suami dan istri dapat berlangsung terus menerus sepanjang kehidupan rumah tangga mereka. Terutama bila ada individu lain yang hadir dalam kehidupan tersebut, misalnya anak. Maka proses seperti ini akan dimulai lagi dengan melibatkan individu baru tersebut.

Proses ini bukanlah suatu proses yang mudah karena harus diperlukan kesediaan suami dan istri untuk mendengar dan memahami pasangannya. Kompromi harus dilakukan karena tidak mungkin hanya harapan dan aspirasi salah satu pihak yang perlu diwujudkan. 

"Baik suami dan istri masing-masing punya hak yang sama untuk mewujudkan harapan dan aspirasinya sehingga masing-masing dapat merasakan kepuasan dan kebahagiaan. Kebahagiaan inilah yang mendasari kehidupan rumah tangga yang harmonis," jelas Ibu Dian

Pasangan yang bekerja tentunya mempunyai kiat-kiat tersendiri dalam menjaga hubungannya agar tetap harmonis. Tiap pasangan dapat memiliki kiat atau cara yang berbeda-beda tergantung dari pengalaman. Yang penting, setiap pasangan harus tetap berusaha untuk mengolah semua pengalaman yang diperoleh dalam hidup berumah tangga untuk menemukan kiat-kiatnya sendiri untuk merasakan kepuasan dan kebahagiannya. 

Bagi pasangan yang bekerja tentunya harus pandai mengelola waktu dengan baik karena perlu agar bisa mengenali apa saja kebutuhan-kebutuhan yang muncul, bagaimana kebiasaannya, apa saja yang sudah dilakukan dan perlu dilakukan. Jangan lupa untuk mengenali hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan seperti target yang dibebankan,tuntutan dari atasan, kerja sama dengan rekan kerja dan bawahan, dan sebagainya. Setelah itu mulai menentukan prioritas, mana yang perlu didahulukan, mana yang bisa ditunda.
 
Penentuan prioritas ini dapat berubah setiap minggu atau bulan. Yang penting adalah penyesuaian waktu dengan anggota keluarga yang lain. Apabila tidak berhasil, tentunya kepuasan keluarga juga menjadi sulit diraih. Misalnya, pada akhir minggu ini suami memutuskan untuk meluangkan waktu ingin menemani istri belanja, tetapi ternyata akhir minggu ini bukan waktu belanja istri, tetapi waktu istri menyelesaikan laporan-laporan dari kantor.
 
Menurut Ibu Dian, bagi pasangan yang telah memiliki anak, maka individu yang perlu diperhatikan dan dipahami kebutuhannya menjadi bertambah. Terlebih karena beban tanggung jawab terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan pendidikan anak mutlak terletak di pundak orang tua. Kakek nenek dan pengasuh hanya berperan sebagai 'perpanjangan tangan' dari orang tua. 
 
Pertama-tama yang perlu diketahui orang tua adalah apa saja kebutuhan anak-anak yang harus dipenuhi, yaitu kebutuhan dasar seperti makan, minum, pakaian, istirahat. Adapula kebutuhan lain seperti kesehatan, pendidikan, kasih sayang, perhatian, aturan, kesempatan belajar, dan sebagainya. Apabila kebutuhan-kebutuhan anak sudah terpenuhi, tidak akan sulit memberikan pengertian pada anak-anak mengenai pekerjaan orang tuanya. 
 
Lebih lanjut Ibu Dian mengatakan pada intinya sekalipun orang tuanya bekerja, anak-anak tidak harus selalu kekurangan perhatian. Sebaliknya sekalipun memiliki salah satu orang tua yang tidak bekerja bukan berarti anak-anak pasti akan selalu bebas dari masalah. Yang penting adalah bagaimana orang tua dan anak bekerjasama untuk mengatur dan mewujudkan kepuasan, kebahagiaan dan keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga masing-masing. 

Tips Untuk Pasangan yang Bekerja Agar Tetap Harmonis

  1. Pahami tugas dan tuntutan-tuntutan dalam pekerjaan pasangan kamu
  2. Kenali atasannya, rekan kerja dan bawahan-bawahannya. Bila memungkinkan, ikut berpartisipasi dalam beberapa kegiatan di kantor suami/istri yang ditujukan untuk karyawan dan keluarganya (misalnya outing, rekreasi, resepsi dan sebagainya).
  3. Bila menghadapi tuntutan atau tantangan baru dalam pekerjaan, selalu bicarakan dengan pasangan dan seluruh anggota keluarga inti sebagai pihak yang terkena dampak langsung dari tugas baru tersebut. Misalnya tentang tawaran sekolah, jabatan baru, lokasi kerja baru dan sebagainya.
  4. Pertahankan komunikasi. Hal ini tidak hanya mencakup kesediaan untuk membuka diri dan mengungkapkan kebutuhan masing-masing, tetapi juga membuka diri untuk mendengar kebutuhan pasangan atau anggota keluarga yang lain.
  5. Fleksibel dalam menempatkan harapan pribadi. Ini bertujuan untuk mewujudkan kompromi dengan pasangan ataupun anggota keluarga yang lain.
  6. Tingkatkan kepekaan terhadap kebutuhan-kebutuhan pasangan atau anggota keluarga lain, terutama yang tidak diungkapkan secara verbal. Amati ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya, nada suara dan sebagainya, sehingga mendapatkan pemahaman yang cukup akurat terhadap kebutuhan dan apa yang dirasakan oleh pasangan kita.
  7. Atur waktu dengan bijaksana berdasarkan tingkat prioritas, antara kegiatan di tempat kerja dan kegiatan dengan pasangan/keluarga.
  8. Selesaikan konflik. Konflik atau pertengkaran dalam keluarga adalah hal yang sangat wajar . Perbedaan pandangan selalu disertai dengan muatan emosional. Terimalah kondisi konflik ini, kemudian secepatnya bicarakan hingga selesai.
  9. Yang penting kualitas. Sekalipun waktu yang dapat disediakan untuk pasangan/keluarga relatif lebih sedikit, lewatkan dengan kegiatan yang berkualitas. Artinya, melakukan kegiatan-kegiatan apapun yang dirasa menyenangkan setiap anggota keluarga.

(Disalin dari Majalah 'Dokter Kita' Edisi 9 Tahun ke-IV)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hubungan Tetap Harmonis Walau Berdua Sibuk Bekerja. Menurut Dian Suryaningrum, S.Psi, M.Psi, Psi"

Post a Comment