Orang yang Introvert Berbahaya? Menurut Wieke Dyah, M.Psi

Dalam pergaulan sehari-hari pasti kita pernah menemui sosok pribadi yang tertutup. Bahkan mungkin tak perlu mencari jauh-jauh karena bisa jadi sosok itu ada dalam keluarga kita sendiri. Sebenarnya apa yang bisa menyebabkan seseorang memiliki kepribadian yang tertutup dan apakah bahayanya?

Teti, 40 Tahun, kerap uring-urinan melihat tingkah laku anaknya Rangga, 11 tahun, yang dianggapnya misterius. Sejak masuk bangku SD yang dilakukan Rangga setelah pulang sekolah adalah cuci tangan, makan dan langsung masuk kamar. Ketika diintip Rangga asyik membaca buku atau mengotak-atik komputer. Teman Rangga bisa dihitung jari. Biasanya yang sering main ke rumah hanyalah Arden dan mereka berdua menghabiskan waktu dengan bermain catur atau basket.



Di zaman modern saat ini yang seharusnya penuh dengan sikap toleransi, bisa jadi sikap yang dilakukan Rangga menjadi sulit untuk diterima. Pasalnya, Rangga mempunyai sikap tertutup, baik untuk masalah kesukaan/hobby, pelajaran dan sekolah, maupun segala cara pandangnya tentang hidup.

Ciri khas seorang introvert adalah 'ketertutupan'nya terhadap dunia luar. Ketertutupan itu menyebabkan ia kadang tersisih di pergaulan dunia nyata. Biasanya mereka hanya memiliki sedikit kenalan atau meski bisa punya banyak kenalan, tetapi sedikit sekali yang benar-benar menjadi teman dekat.

Sebenarnya, menjadi seorang introvert bukanlah sebuah pilihan hidup. Bahkan bisa jadi mereka yang introvert sering tidak sadar akan jati dirinya. Menjadi introvert memang tidak seburuk menjadi pengedar narkoba ataupun kriminal. Menurut psikolog, para introvert malah dapat memmpunyai kelebihan tertentu dibanding extrovert.

TAK BERARTI BURUK
Menurut psikolog Wieke Dyah, M.Psi, stigma masyarakat modern selalu mengunggulkan orang extrovert alias orang yang 'terbuka' sebagai pribadi yang lebih baik. Jika berhadapan dengan dengan orang introvert atau 'tertutup'. image yang dihadirkan malah buruk. Wajarlah jika kemudian tipe kepribadian ekstrovert akan terlihat lebih sukses dan populer daripada mereka yang introvert. Orang ekstrovert cenderung memiliki lebih banyak teman dan mungkin lebih berbahagia dalam menjalani hidup.

FAKTOR PEMBENTUK
Menurut Wieke, seseorang mempunyai sifat introvert dikarenakan faktor lingkungan yang mendukung pembentukan kepribadian seseorang. Misalkan saja sebuah keluarga yang tidak mendidik anaknya untuk bergaul dan bersosialisasi alias tertutup, maka besar kemungkinan sang anak akan terbentuk kepribadiannya menjadi introvert. Bila saja keluarga tersebut mendidik anaknya untuk bergaul dengan masyarakat pada akhirnya akan terbentuk karakter anak yang lebih suka bersosialisasi

PERBEDAAN
Orang introvert dan ekstrovert secara mendasar terdapat perbedaan yang dapat dilihat dari tingkah lakunya sehari-hari. Orang yang ekstrovert akan terlihat senang berkomunikasi atau mengobrol sekedar berbasa-basi dengan orang banyak. Bagi orang ekstrovert, bahasa merupakan alat untuk bersosialisasi.

Untuk seorang introvert, kalau tidak yang ingin disampaikan, maka tidak akan terjadi perbincangan ataupun berbasa-basi. Dia hanya hanya akan berbicara seadanya atau kalau memang ada informasi yang disampaikan. Bagi orang introvert bahasa hanya dipakai sebagai alat untuk menyampaikan informasi saja.

BERBAHAYAKAH MENJADI INTROVERT
Stigma tidak baik yang kerap menghinggapi orang-orang introvert membuat masyarakat cenderung menjatuhkan penilaian bahwa orang introvert itu berbahaya. Menurut Wieke, orang introvert malah tidak berbahaya, karena mereka adalah tipe orang yang memikirkan dahulu sebelum bertindak, dalam arti setiap tindakan yang dilakukan oleh orang introvert akan lebih berhati-hati.

Lebih lanjut Wieke mengatakan bahwa orang yang introvert yang berbahaya adalah bila orang tersebut yang mempunyai masalah, namun tidak diceritakan dan hanya dipendam saja sendirian. Bila masalah sudah dipendam sendirian tanpa ada penyelesaian maka akan muncul gangguan seperti kebencian, kemarahan, dendam dan sebagainya. Orang dengan tipe seperti itulah yang dapat menimbulkan banyak masalah di lingkungannya.

Memang dijelaskan oleh Wieke, tidak tertutup kemungkinan jika sikap orang introvert dapat menuju sikap yang merugikan seperti diatas. Itulah mengapa alangkah baiknya bila seseorang meski introvert, namun tetap berusaha untuk dapat dilihat memiliki teman-teman yang bisa diajak 'berbagi' sehingga tak akan memendam suatu permasalahan sendirian.

MEMILIKI PEKERJAAN YANG TEPAT
Ada anggapan pula bahwa  orang introvert akan mempunyai karir yang tidak bagus. Hal itu tidak sepenuhnya benar. Menurut Wieke justru orang yang introvert banyak yang dapat berhasil di pekerjaannya asalkan bisa memilih pekerjaan yang cocok. Bila ditelisik lebih jauh memang banyak orang yang mempunyai sifat tersebut malah sukses dalam karirnya. Biasanya pekerjaan yang tepat untuk orang introvert adalah yang yang tidak berhubungan dengan banyak orang, seperti  : ahli IT, staf laboratorium, peneliti dan lain-lain.

Orang introvert yang memiliki kebiasaan lebih banyak berpikir, dapat mudah untuk mendalami pekerjaan seperti yang telah disebutkan. Bahkan bisa jadi ia akan mampu mengembangkan dirinya sendiri. Tentu menjadi lain persoalannya jika ia memilih pekerjaan yang berhubungan dengan orang lain. Bila itu yang dipilih kemungkinan besar tidak akan berhasil, namun memang belum tentu juga. 



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Orang yang Introvert Berbahaya? Menurut Wieke Dyah, M.Psi"

Post a Comment