Menjalin Hubungan dengan Pria Anak Mami, Menurut Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si.

Anak pria yang dekat dengan ibunya biasanya akan dinilai positif oleh sebagian wanita. Kaum hawa menganggap pria tersebut bisa menghormati dan menyayangi wanita atau pasangannya seperti halnya kepada ibunya. Namun bagaimana dengan anak pria yang segala sesuatunya tergantung pada ibunya atau yang dikenal dengan sebutan 'anak mami'.


Menurut Psikolog Anna Surti Ariani S.Psi, M.Si., ketika istilah anak mami diucapkan, yang tergambar adalah bahwa anak tersebut memiliki kedekatan yang erat dengan ibunya. Dirinya selalu akan mendengarkan segala saran, nasehat dan apapun yang diberikan ibunya dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-harinya. Sementara bagi yang sudah menikah akan dipraktekkannya dalam rumah tangganya.

Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si
Namun keberadaan anak mami yang selalu mengikuti pendapat ibunya akan memberikan kesan sebagai anak yang segala hal nya bisa selalu diatur oleh ibunya, dan hal itu seringkali mengganggu dalam kehidupan anak bersama pasangannya atau rumah tangga anak tersebut bersama istrinya. Padahal, sebenarnya ketika seseorang sudah menikah, pasangan tersebut diharapkan sudah cukup mandiri. Yang artinya mereka sudah bisa mengambil keputusan untuk keluarganya sendiri tanpa dipengaruhi oleh orang lain termasuk ibunya. Meskipun orang lain atau ibunya diperbolehkan memberikan masukan. Namun terkadang hal itu juga akan mengganggu dan seakan-akan ada orang ketiga dalam hubungan tersebut.

Sampaikanlah Hal yang Mengganggu
Anak mami yang memiliki arti selalu menuruti perintah ibunya ini terkadang menjadi gangguan dalam hubungan berpasangan. Meskipun sebagai bentuk cinta dan hormat pada ibunya. Sayangnya kepatuhan pria anak mami ini rentan menjadi kerikil dalam hubungan berpasangan. 

Salah satu contoh adalah ketika pasangan suami istri telah membuat suatu keputusan, namun ternyata keputusan tersebut diubah atau dibatalkan oleh suami karena tidak sesuai atau tidak sama dengan pendapat ibunya. Ditambah lagi perubahan atau pembatalan tersebut tidak dibicarakan kembali dengan istrinya dan suami lebih memilih pendapat ibunya.

Untuk itu menurut Psikolog anak dan keluarga yang biasa disapa Nina ini, istri atau wanita yang memiliki pasangan anak mami itu disarankannya untuk membicarakan kepada si anak mami tentang segala hal atau keputusan yang mengganggu kehidupannya dalam menjalani hubungan berpasangan.

Sebenarnya tidak semua keputusan yang diambil oleh suami harus menuruti perintah atau keinginan sang ibu dan bukan juga semua pendapat ibu itu disanggah. Namun sebaiknya segala pendapat atau perintah dari ibunya bisa dipilah-pilah atau disaring bersama-sama mana yang sesuai dan tidak sesuai dengan kondisi pasangan, katanya.

Selain itu, perlu diingat bahwa ketika kita menikah, maka yang menikah bukanlah diri kita dengan pasangan saja, tetapi juga dengan keluarga pasangan kita, termasuk dengan ibunya. Maka bagi mereka yang menikah dengan suami yang memiliki karakter anak mami seperti itu juga sebaiknya bisa menghormati ibu dari pasangannya, sehingga nantinya juga bisa memahami sang ibu mertua juga bukan sekedar tidak menyukai atau atau marah-marah akan keputusan suami. 

“Karena bagaimana pun orangtua lebih berpengalaman dalam menjalani hubungan berpasangan dibandingkan mereka.” Saran Nina

Namun bila permasalahan yang ada terus saja berlarut-larut dan tidak lagi mempan dengan jalur komunikasi, maka akan berimbas pada keutuhan keluarga itu sendiri. Selain berdampak bagi hubungan pasangan suami istri tersebut juga berdampak pada pembentukan karakter anak mereka, imbuh Nina.

Bila kita memposisikan diri sebagai sang suami, sebenarnya pria berkarakter anak mami itu tidak juga menyenangkan karena terjepit antara ibu dan pasangannya. Disatu sisi dirinya sangat menghormati ibunya namun disisi lain dirinya juga memiliki perasaan yang dalam dengan pasangan yang dicintainya pula. Namun jika posisi terjepitnya ini memaksa untuk memilih, kemungkinan besar suami akan lebih memilih ibunya. Sedangkan terhadap anak-anaknya, bagaimana cara orangtuanya memperlakukan neneknya atau pasangan hidupnya akan dijadikan contoh bagi anaknya dalam menjalani hubungan dengan pasangannya dan orangtua mereka kelak.

Idealnya Tidak Ikut Campur
Banyak ibu karena merasa lebih berpengalaman dengan dasar rasa cinta yang besar kepada sang anak membuat dirinya tidak mudah melepaskan anaknya. Termasuk dalam membuat keputusan sendiri atau tanpa menuruti pendapat dirinya.

Padahal ketika ibu atau orangtua sudah memberikan izin kepada anaknya untuk menikah, maka pada saat itu pula ibu atau orangtua sudah semestinya mempercayakan anak untuk bisa membuat keputusan sendiri.

“Idealnya, ketika anak sudah menikah orangtua tidak lagi mencampuri kehidupan rumah tangga sang anak, terlebih jika dilakukan secara berlebihan.” Tegas Nina.

Meski tidak menampik nantinya ada atau butuh campur tangan atau pendapat orangtua, namun sementara biarkanlah pasangan tersebut yang memutuskan, karena merekalah yang akan menjalaninya dan biarkanlah anak dan pasangannya bertanggung jawab dengan keputusannya.

Butuh Waktu Merubahnya
Menjalin hubungan dengan pria bertipe anak mami memang tidak semudah yang kita kira. Menurut Nina, pria dengan karakter tersebut bisa dirubah namun memang tidak mudah dan instan seperti yang biasa kita harapkan, apalagi jika pria yang kita sayangi sudah terbiasa seperti itu sejak dahulu. Belum lagi jika ditambah dengan karakter ibunya yang terkesan sulit mengizinkan anaknya untuk mandiri.

Jika dalam hal ini permasalahan yang menyangkut ibu, anak dan pasangannya tidak bisa diselesaikan, perlu dipikirkan adanya bantuan konseling keluarga yang dihadiri ibu, anak dan pasangannya dan juga ayahnya. Pendapat pihak ayah yang memiliki perbedaan sikap dari ibunya terhadap anaknya bisa dijadikan masukan.

Sementara bagi wanita yang akan menikah dengan pria anak mami, maka Nina menyarankan untuk lebih menyiapkan diri. Persiapan yang bisa dilakukan oleh wanita tersebut adalah dengan mengenal lebih dekat dengan calon mertuanya. Selain itu juga bisa menghormati dan bertukar pikiran dengan calon mertuanya, karena jika tidak dekat atau terlihat bertentangan dengan calon mertuanya, maka nantinya akan sulit meyakinkan calon suaminya dalam memilih pendapatnya ketimbang pendapat ibunya. Apalagi jika terjadi permusuhan atau pertentangan yang jauh, maka calon suami akan lebih memilih ibunya dan menganggap calon istrinya adalah suatu serangan buat ibunya.

Kabar baiknya, jika wanita bisa membangun hubungan baik dengan ibu calon suaminya, maka lama kelamaan dominasi ibu terhadap anaknya akan berkurang, karena lama kelamaan akan terbentuk rasa percaya dan nyaman terhadap calon istri pilihan anaknya.



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menjalin Hubungan dengan Pria Anak Mami, Menurut Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si."

Post a Comment