Vitiligo : Tak Berbahaya tapi Bikin Minder. Menurut Prof. Dr. dr Siti Aisah Boediardja, Sp.KK


Banyak penyakit yang bisa menyerang kulit manusia, salah satunya adalah vitiligo. Penyakit kulit ini bisa menyerang siapa saja dan kapan saja, walaupun begitu, penyakit ini sama sekali tidak membahayakan. Hanya saja pada umumnya penderita penyakit ini akan kehilangan percaya diri, karena kulit tubuhnya tidak sama dengan kulit manusia pada umumnya.
Prof. Siti Aisah

Menurut Prof. Dr. dr Siti Aisah Boediardja, Sp.KK, guru besar ilmu penyakit kulit dan kelamin. Vitiligo adalah penyakit kulit yang ditandai dengan bercak putih (hipopigmentasi) yang semakin meluas. Vitiligo dapat terjadi di berbagai bagian tubuh, terutama di bagian tulang yang menonjol dan tempat-tempat yang terbuka, sehingga mudah terlihat. Namun tidak semua bercak putih di kulit disebut vitiligo, karena vitiligo mempunyai ciri-ciri tertentu.

Kata vitiligo sendiri berasal dari Bahasa latinyakni vitellus, yang artinya anak sapi atau bercak putih pada kulit sapi. Vitiligo adalah kehilangan warna kulit  karena tidak adanya pigmen akibat kerusakan sel pembentuk pigmen (melanosit). Selain kulit, vitiligo juga dapat mengenai mukosa (selaput lendir, misalnya dinding-dinding dalam mulut), dan organ berpigmen lainnya seperti rambut dan mata. Penyakit ini sudah ada sejak 1500 tahun sebelum masehi.


Baca juga : Cacingan Pengaruhi Kecerdasan Anak Menurut dr. Agnes Kurniawan, PhD, SpParK

Lebih lanjut Prof. Siti Aisah menambahkan, kulit manusia umumnya ditentukan oleh berbagai zat Antara lain karoten, oksi-hemoglobin, hemoglobin dan pigmen melanin yang merupakan komponen utama warna kulit. Warna kulit dapat berubah menjadi lebih hitam (hipermelanosis atau hiperpigmentasi) dan menjadi lebih putih yang disebut hipopigmentasi atau hipomelanosis atau leukoderma yang dipengaruhi oleh penyakit atau hal lain seperti paparan sinar matahari.



Pada penderita vitiligo, melanosit mengalami kerusakan. Hal tersebut bisa diakibatkan oleh kercaunan atau pengaruh lingkungan atau akibat reaksi autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang sel tubuh sendiri, akibatnya kulit berbelang-belang putih.

Vitiligo bisa berada pada satu tempat saja, atau juga berada di dua tempat dan bisa menyebar. Kelainan tersebut umumnya ditemukan di wajah, siku dan lutut, tangan dan kaki serta alat kelamin. 

“Ukuran vitiligo sangat bervariasi, dari beberapa millimeter hingga sentimeter. Menariknya penyakit ini tidak disertai rasa gatal”. Ujar Prof. Siti Aisah

Hanya saja, saat dilakukan pemeriksaan hispatologi (pemeriksaan jaringan dengan mikroskop), tidak ditemukan sel melanosit.




Hingga saat ini, menurut Prof. Siti Aisah tidak diketahui penyebab pasti penyakit ini. Hanya saja, ada yang berteori kalau penyakit ini muncul disebabkan kerusakan melanosit akibat pajanan dengan bahan luar yang bersifat racun, misalnya fenon atau hidrokuinon, atau akibat gangguan proses pembentukan pigmen produk antara yang dihasilkan yaitu DOPA dan INDOL serta radikal bebas dapat juga merusak melanosit sendiri.

Baca juga : Kiat Jitu Menolak Cinta Seseorang Menurut Vera Itabiliana, Psi

Ada juga yang berpendapat kalau vitiligo merupakan penyakit autoimun, artinya tubuh membentuk antibody terhadap melanosit seakan-akan sistem pertahanan tubuh tidak mengenal melanositnya sendiri, sehingga melanosit dirusak. Vitiligo juga dikaitkan dengan gangguan pembentukan melanosit saat perkembangan janin dan genetik. Secara medis, Prof. Siti Aisah menambahkan, penyakit vitiligo ini biasanya disertai dengan penyakit lain. Namun biasanya keluhan estetika saja, malu karena memiliki bercak putih pada kulit. 


Vitiligo dapat menyerang semua jenis kelamin baik pria maupun wanita tua dan muda. Penyakit ini tidak pandang bulu karena menyerang semua kalangan. Hanya sedikit yang dimulai sejak lahir, jarang pula dimulai pada usia lanjut.

Untuk pengobatannya sendiri sampai sekarang ini hasilnya kurang memuaskan, seluruh dunia sampai sekarang masih mencari pengobatan yang tepat. Karena hasilnya belum menggembirakan.Vitiligo dapat diobati dengan merangsang pembentukan melanin dengan bahan kimia 8-metoksipsoralen atau trisoralen yang dioleskan di bagian yang terkena, kemudian dijemur sebentar kurang dari 5 menit. Atau bila bercak luas, dapat dikombinasikan dengan psoralen oral (diminum) dan sinar ultraviolet  A. Pengobatan ini hanya dikerjakan oleh dokter kulit, mengingat obat tersebut bersifat racun dan dapat menimbulkan luka bakar atau kerusakan hati.

Beberapa kasus vitiligo responsif dengan pengobatan kortikosteroid kuat topikal misalnya klobetasol. Kortikosteroid memberi efek samping pada kulit dan organ sistemik, sehingga penggunaannya harus hati-hati. Suplemen vitamin yang mengandung vitamin E, B12, asam folat, biotin pantotenat, ferrum (zat besi), Ca dan Mg. Selain itu pengobatan vitiligo juga dapat dilakukan dengan terapi alternatif sinar UVB, ekstrak plasenta, imunomodulator, herbal. Untuk menutupi noda dapat dilakukan cover mark atau juga dapat melakukan tandur kulit.


Baca juga : Sperma Sehat dengan Tauge, Benarkah? Menurut dr. Sigit Solichin

Pengobatan vitiligo tidak dapat diramal, tergantung dengan individu, ada individu yang vitiligo masih baru bisa diobati dengan lebih cepat. Tapi kalau sudah lama dan sudah luas tentu akan lebih sulit mengobatinya. Dan tiap individu responsnya berbeda-beda, ada yang cepat dan ada yang lama. Penyakit ini dapat meluas dan dapat yang menetap, bisa juga meluas seluruh badan. Bila sudah meluas seluruh badan akan mengakibatkan tubuh putih semua. Jadi tidak bisa diprediksi hasil pengobatannya. Ini merupakan tantangan bagi dunia kedokteran, karena hasilnya yang belum memuaskan.

Berikut ini beberapa tips dari Prof. Siti Aisah :
  1. Hindarilah paparan sinar matahari, pakailah tabir surya, perhatikan juga SPF yang baik diatas 15;
  2. Kalau mau berjemur, ada baiknya cari waktu saat sinar matahari tidak terlalu terik. Sinar matahari terik dari jam 9 sampai jam 3 dan mencapai puncaknya antara jam 11 sampai jam 2;
  3. Tidak memakai bahan atau produk yang dapat merusak kulit, karena pada saat penyembuhan pigmennya bisa terganggu;
  4. Untuk pasien dengan vitiligo, bukannya tidak mempunyai harapan untuk sembuh. Pengobatan pastut dicoba tetapi jangan coba-coba sendiri, harus berdasarkan anjuran dokter yang kompeten.



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Vitiligo : Tak Berbahaya tapi Bikin Minder. Menurut Prof. Dr. dr Siti Aisah Boediardja, Sp.KK"

Post a Comment