Cadel Berawal dari Meniru Orangtua? Menurut Dr. dr. Soedjatmiko, SpA (K), Msi

“Bun, kok pelut aku cakit?” Tahukah Kamu maksud ucapan si balita? Bagi kebanyakan orangtua mungkin masih bisa memakluminya dan malah menganggapnya sebagai hal yang lucu dan menggemaskan. Padahal kesulitan menyebutkan huruf tertentu menandakan adanya gangguan dalam perkembangan sang anak.

Ketidakmampuan mengucapkan suatu huruf umumnya disebut sebagai cadel. Biasanya anak cadel tidak bisa melafalkan huruf R dengan benar, meski ada juga sebagian orang yang justru bisa menyebut huruf R namun cadel untuk huruf lainnya. Contohnya saja pada orang Jepang yang kebanyakan tidak dapat mengucapkan huruf L.

Faktor Penyebab

Anak yang cadel disebabkan kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah. Menurut Dr. dr. Soedjatmiko, SpA (K), Msi, cadel bisa dikarenakan faktor keturunan dari kedua orangtuanya maupun tidak. Cadel yang ringan bisa jadi tidak merupakan masalah, tetapi bila cadel terlalu berat sehingga perkataan anak menjadi tidak jelas haruslah dilakukan terapi.

Selain kematangan fisiologis, cadel juga disebabkan faktor lingkungan. Saat anak berkata, “Minta cucu (susu), sang ibu malah menanggapi, “Mau cucu, ya? Cebental ya sayang.” Jadi si orangtua malah ikut-ikutan cadel. Reaksi seperti itu malah dapat membuat anak jadi terkondisi untuk terus bicara cadel. Anak malah senang karena kalau bicara cadel, ditanggapi dan dibalas cadel pula. Padahal seharusnya orangtua bertugas meluruskan pengucapan huruf maupun cara bicara anaknya.

Asal tahu saja nih sob, tugas utama yang harus dilakukan seorang anak dalam belajar berbicara ialah mengucapkan kata. Nah, anak bisa mengucapkan kata karena meniru. Kalau Kamu bicara cadel dengannya, ia akan berfikir bahwa itulah yang benar. Akhirnya anak menjadi cadel seterusnya.

Begitu juga jika ayah atau ibunya memang benar cadel, pada kondisi seperti ini anak jadi tidak pernah mendengar dan belajar bagaimana seharusnya mengucapkan huruf dengan tepat. Pada dasarnya, pengucapan kata-kata timbul dari pengajaran dan pelatihan dalam lingkungan terdekat anak, yaitu keluarga.

Bisa juga pada beberapa kasus, anak yang sudah bisa melafalkan huruf R, tiba-tiba jadi ‘mundur’ alias kembali cadel. Hal itu bisa disebabkan faktor psikologis. Perbuatannya itu dilakukan karena mencari perhatian orangtua, misalnya bila baru saja punya adik. Nah, untuk merebut perhatian dari ayah dan ibunya, anak kembali men’cadel’kan dirinya.

Cadel juga terkait dengan aspek budaya. Ada beberapa suku yang memang memiliki peraturan sendiri dalam mengucapkan suatu huruf. Bila itu yang merupakan penyebabnya, cadel bisa lebih luas lagi. Kalau biasanya yang banyak terjadi adalah cadel huruf R, S atau T, maka bila karena budaya bisa saja huruf-huruf yang seharusnya dapat diucapkan dengan benar malah menjadi tidak tepat.

Masih Normalkah?

Umumnya anak cadel yang masih dianggap normal adalah bila usianya masih dibawah 3 tahun, asalkan tidak ditemukan gangguan di otak/saraf pusat atau saraf tepi. Bila cadel hanya meniru lingkungan saja itu bisa diperbaiki dengan latihan dan mungkin bisa hilang dengan sendirinya seiring dengan pertumbuhan anak. Berbeda jika terdapat kelainan di otak dan di saraf tepi, kondisi seperti ini sangat susah menghilangkannya, harus dengan terapi khusus.

Pada saat usia 5 tahun seharusnya anak sudah tidak cadel lagi karena kematangan otot-ototnya sudah menyerupai orang dewasa, selambat-lambatnya di usia 6 tahun. Kalau sampai umur seperti itu anak masih cadel, berarti ada kelainan. Dugaannya adalah si anak mengalami defisiensi kemampuan fonologis, yaitu ketidakmampuan untuk mengucapkan huruf tertentu.

Sayangnya, sulit untuk mendeteksi apakah kecadelan di usia 3-5 tahun akan berlanjut terus atau tidak. Hal itu menyangkut sistem saraf otak yang mengatur fungsi bahasa, yang terbagi menjadi area Borca yang mengatur koordinasi alat-alat vokal dan area Wernicke untuk pemahaman terhadap kata-kata. Kerusakan di area Borca disebut afasia motorik yang membuat anak lambat bicara dan pengucapannya tidak sempurna sehingga sulit dimengerti. Kerusakan di area Wernicke disebut afasia sensori aphasia dimana anak dapat berkata-kata tapi sulit dipahami orang lain dan dia pun sulit untuk mengerti kata-kata orang lain.

Dalam belajar berbicara, pemahaman terhadap kata-kata akan muncul lebih dulu, baru kemudian anak akan memproduksi kata-kata alias berbicara. Merujuk pada tingkatan bahasa anak, di usia 1,5-2 tahun biasanya ia sudah berkata “Mama”, “Papa”, dan sebagainya. Di usia 3 tahun, minimal anak sudah bisa mengkombinasi 2 kata, “Mama pergi” atau “Mau susu”, dan sebagainya.

Jika anak belum mampu bicara sesuai tingkat perkembangannya, maka kita patut curiga. Bukan curiga pada masalah cadelnya tetapi, mengapa sang anak belum bisa berbicara  seperti anak-anak lain seusianya.

Selain itu, kesulitan mendeteksi juga disebabkan karena anak usia 2-6 tahun masih berkembang. Artinya, dia sedang dalam proses belajar berbicara. Anak tengah berada dalam fase mulai menyesuaikan, mulai menambah perbendaharaan kata, meningkatkan pemahaman mengenai bahasa dan perkembangan makna kata, termasuk juga penguasaan konsonan.

Stimulasi dari Orangtua

Untuk mencegah anak menjadi cadel, para orangtua harus rajin memberikan stimulasi pengucapan yang benar pada anak. Paling lambat stimulasi diberikan pada saat anak berumur 2 tahun. Dengan kata lain, kalau berbicara dengan anak usia ini, jangan menggunakan bahasa dengan pengucapan yang cadel. Jangan mengganti huruf ‘S’ dengan ‘C’ atau ‘R’ dengan ‘L’. Jangan pula menghilangkan konsonan tertentu, misalnya ‘pergi’ jadi ‘pegi’ atau ‘es krim’ jadi ‘ekim’.


Jika salah satu orangtuanya cadel, maka yang normallah yang harus secara aktif memberikan stimulasi tersebut. Kalu sampai ayah dan ibu sama-sama cadel, maka perlu diupayakan agar si anak mendapatkan stimulasi dari orang lain misalnya kakek dan nenek, bisa juga dengan diperkenalkan ke lingkungan lain seperti sekolah.

Usia 3 tahun, biasanya anak sudah masuk Kelompok Bermain. Nah, dari situ anak bisa belajar. Mungkin pada awalnya dia sulit mengucapkan ‘R’ karena otot-otot yang tadinya sudah matang tapi karena tidak terlatih, akan menyulitkan dia untuk menyesuaikan mengatakan ‘R’. Meski begitu, kalau terus dilatih pasti bisa. Dalam hal ini, guru harus aktif melatih si anak.

Meski dikatakan masih wajar saja kalau si kecil masih cadel di usia 3-5 tahun, tetapi anak harus tetap dirangsang dan dilatih untuk mengucapkan kata-kata dengan benar. Hal itu penting agar cadelnya tak berkelanjutan sampai anak masuk sekolah dan mempengaruhi penyesuaian sosialnya. Apalagi pada waktu anak bertambah besar, cadelnya tak akan hilang secara otomatis meskipun kadarnya mungkin berkurang.

Tetaplah Percaya Diri

Anak cadel yang menginjak usia sekolah akan merasa berbeda dengan teman-teman sebayanya. Ia akan merasa malu dan asing dari orang lain. Ia tak akan suka disuruh berbicara dalam kelas karena takut ditertawakan teman-temannya. Akibatnya anak akan menjadi minder dan menarik diri.

Bila anak yang cadel terlanjur terbawa hingga dewasa, dampak psikologis akan terasa. Hanya saja semua itu tergantung dari individunya, bila orang cadel tersebut tetap merasa percaya diri maka tidak ada masalah, karena
ada banyak orang yang sukses meski cadel di luar sana.

Tips Melatih Pengucapan Kata

Kamu tentu tidak ingin buah hati tercinta mengalami cadel yang berkepanjangan, bukan? Mulailah dari sekarang melatihnya mengucapkan kata dengan benar. Berikut adalah beberapa tips bagi para orangtua :
  1. Anak setiap hari dilatih berbicara dengan benar, seperti penggunaan konsonan huruf R, S, dan L;
  2. Berbicara dengan anak sehari-hari harus baik dan benar, tidak boleh ikut-ikutan cadel;
  3. Para orang tua harus rajin memberikan stimulasi pengucapan yang benar pada anak.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cadel Berawal dari Meniru Orangtua? Menurut Dr. dr. Soedjatmiko, SpA (K), Msi"

Post a Comment