Awas! DIFTERI Menyerang. Menurut dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K)

Beberapa hari ini telah dilaporkan adanya wabah difteri yang menyerang anak-anak, padahal penyakit infeksi ini hampir sudah tidak ditemukan lagi di Indonesia lho sob, bahkan di banyak negara berkembang. Jarangnya kasus difteri merupakan hasil nyata bahwa vaksin anti difteri terbukti menurunkan angka kejadian penyakit dan vaksin ini telah digunakan secara luas. Namun, akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab menyebarkan soal imunisasi, penyakit ini kembali mencuat. Jika demikian, ada baiknya sob kita mengenal apa sebenarnya penyakit ini.

Mengenal Difteri

Difteri adalah salah satu penyakit infeksi yang bisa menyebabkan kematian bagi penderitanya. Menurut dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), difteri disebabkan oleh bakteri yang bernama corynebacterium diphtheria. Bakteri ini menghasilkan racun yang sangat berbahaya, sebab bisa menimbulkan komplikasi ke jantung. Penularannya melalui percikan ludah atau batuk yang ditularkan oleh penderita. Sangat mirip dengan infeksi saluran nafas atas, bakteri ini juga menyerang organ-organ di sepanjang saluran napas atas seperti selaput hidung, tenggorokan, amandel (tonsil), laring (pita suara) dan faring. Tidak jarang pula bakteri akan masuk lebih dalam menuju saluran napas bawah. Ngeri kan sob..

trakeostomi
Ketika bakteri ini masuk, muncul perlawanan dari tubuh agar bakteri tidak sampai masuk ke saluran napas bagian bawah. Hal ini ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening di leher. Selain itu, tonsil yang juga berfungsi sebagai organ pertahanan tubuh akan ikut membesar. Namun, apabila penyakit tidak ditangani dengan baik, maka tonsil akan terus membesar hingga menyumbat saluran pernapasan. Kondisi inilah yang dikhawatirkan, sebab anak menjadi sulit bernapas. Terkadang dokter harus bertindak cepat agar anak tetap bernapas yaitu dengan cara melubangi kerongkongan yang dalam istilah kedokteran dinamakan sebagai trakeostomi. Tujuannya adalah untuk memberikan jalan oksigen ke paru-paru sehingga anak masih bisa bernapas.

Dr. Hindra mengatakan bahwa difteri sudah mulai mewabah dalam beberapa hari terakhir, maka dari itu, penyakit ini tidak bisa dipandang remeh dan tentunya vaksinasi adalah jalan terbaik untuk mencegahnya.


Gejala Yang Samar

corynebacterium diphtheria
Corynebacterium diphtheria akan masuk ke dalam tubuh dan mulai menimbulkan gejala setelah beberapa hari. Gejala yang dirasakan umumnya sangat mirip dengan influenza, common cold atau infeksi saluran napas atas. Demam, nyeri tenggorokan, suara serak, sulit menelan dan demam tinggi adalah gejala yang sering muncul. Selain itu, terdapat juga pembesaran kelenjar getah bening dan adanya selaput di tenggorokan yang mudah berdarah.

Selaput ini dinamakan sebagai pseudomembran (menyerupai membrane). Untuk membedakannya, selaput ini harus dilepaskan. Pada pseudomembran, setelah dilepaskan akan berdarah, sedangkan pada membrane tidak berdarah. Karena gejalanya yang sangat mirip dengan infeksi tenggorokan akibat streptococcus beta hemoliticus, maka pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan. Seperti kita ketahui bahwa S.beta hemoliticus adalah salah satu bakteri penyebab infeksi tenggorokan yang menimbulkan komplikasi pada jantung.

Jika tidak ditangani dengan baik, bakteri akan terus menyerang organ-organ di saluran pencernaan. Tidak hanya itu, ia juga mengeluarkan racun yang bisa menimbulkan masalah pada hantaran listrik di otot jantung. Dr. Hindra  mengatakan, pada akhir minggu pertama atau awal minggu kedua, bisa terjadi komplikasi ke jantung. Listrik yang seharusnya dihantarkan ke otot jantung akan dihambat oleh racun yang dihasilkan oleh corynebacterium diphtheria yang mengakibatkan otot jantung tidak dapat berkontraksi. Jika sudah terjadi kondisi seperti itu, maka dapat  berujung kepada kematian.

Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan yaitu dengan mengambil apus tenggorokan penderita kemudian dikultur, kemudian penderita harus dirawat di ruangan khusus (isloasi) agar tidak menulari orang lain. Terapi utama adalah antbiotic penisilin dan immunoglobulin (antitoksin). Setelah diagnosis difteri dipastikan, anak yang terinfeksi atau orang dewasa harus menerima suatu antitoksin. Antitoksin ini disuntikkan ke pembuluh darah atau otot untuk menetralkan toksindifteri yang sudah terkontaminasi dalam tubuh. Sedangkan antibiotik akan membantu membunuh bakteri ada dalam tubuh dan membersihkan infeksi.


Imunisasi adalah Pencegahan Terbaik

Imunisasi sudah terbukti menurunkan angka kejadian suatu penyakit. Di negara maju, infeksi difteri sudah hampir tidak ditemukan lagi karena angka cakupan imunisasi sangat tinggi. Namun, di negara berkembang, masih ada daerah yang memiliki cakupan imunisasi yang rendah. Padahal imunisasi yang diwajibkan Pemerintah dapat diperoleh secara gratis di Puskesmas.

Infeksi difteri terutama menyerang anak yang tidak diimunisasi. Orang dewasa yang imunisasinya tidak lengkap juga bisa terkena penyakit ini. Selain itu, ada beberapa faktor resiko seperti kawasan pemukiman yang kumuh dan padat, orang dengan gangguan kekebalan tubuh serta siapapun yang pergi ke daerah endemik difteri.

Imunisasi difteri biasanya bersamaan dengan pertusis dan tetanus (DPT, Disteri Pertusis Tetanus). Imunisasi ini mulai diberikan pada bayi usia 2 bulan, diulang lagi pada usia 4 bulan, 6 bulan, 18 bulan dan terakhir pada usia 5 tahun yaitu usia pra-sekolah. Jika anak telah mendapat imunisasi DPT secara lengkap, maka ia akan terlindungi terhadap penyakit difteri, pertusis, dan tetanus dalam jangka waktu yang cukup lama.

Dengan adanya kejadian ini, hendaknya menjadi pelajaran bagi masyarakat bahwa imunisasi itu sangat penting. Orangtua seharusnya tidak langsung termakan isu-isu negatif yang beredar seputar imunisasi. Namun tetap melakukan yang terbaik demi kesehatan anak-anaknya, yang salah satunya adalah dengan melakukan imunisasi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Awas! DIFTERI Menyerang. Menurut dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K)"

Post a Comment